ZoyaPatel

Fatayat NU dalam Perang Media Digital

Mumbai
Ilustrasi, Fatayat NU dalam perang Media
Beberapa minggu lalu sempat terdengar isu–isu miring tentang vaksinasi covid–19, khususnya di pedesaan. Kabar tersebut membuat sebagian masyarakat resah dan ketakutan. Salah satu contoh isu yang berkembang seperti: jika divaksin akan mati, jika tidak divaksin dana bantuan tidak akan cair, dan banyak lagi isu–isu yang beredar di masyarakat.

Isu yang beredar itu sangat luar biasa dampaknya bagi masyarakat. Sehingga banyak masyarakat di desa yang takut dan enggan untuk melakukan vaksinasi bahkan ada yang rela bersembunyi seharian untuk menghindar dari petugas kesehatan. 

Baca Juga : 

Seperti api di dalam sekam. Tentu api itu tidak akan menjalar kalau tidak dihidupkan sumbunya. Begitu juga dengan kabar tentang vaksin dan berita lainnya.  Berita tersebut sangat cepat penyebarannya di masyarakat, terlebih di era keterbukaan informasi seperti saat ini, banyak sumber media massa yang bisa diakses. Melalui media itu, masyarakat berlomba–lomba untuk menginformasikan berita yang dalam tanda kutip penulisnya “menurut mereka benar”. 

Informasi yang didapat dari media massa tersebut biasanya disebar luaskan dari mulut ke mulut. Biasanya emak–emak (ibu-ibu) yang sangat cepat menyebarkan berita melalui aktifitas sosial bermasyarakat mereka, seperti kegiatan pol-kompol (kegiatan berkumpul ngerumpi), atau kegiatan  muy-tamuyan  (silaturahmi) yang biasa dilakukan sepulang kerja atau ketika waktu santai.

Dari kegiatan ini, informasi biasanya akan mengalami pergeseran makna dan kevalidan. Bisa berkurang atau ditambahi dengan bumbu–bumbu sehingga membuat siapa saja yang mendengar informasi tersebut kemungkinan akan percaya. Karena rata–rata masyarakat tidak pernah memfilter informasi yang mereka dapatkan terlebih dahulu.

Media massa sebagai alat progoganda sangat efektif untuk mempengaruhi pola pikir masyarakat, apa lagi jika dikombinasikan dengan the power of emak–emak yang memberi dampak sangat signifikan pada pola pikir masyarakat.

Baca Juga : Spektrum Manhaj; Satu Nama Beda Rasa

Tentunya untuk menyikapi informasi yang kurang kredibel (hoax), peranan segala elemen masyarakat tentunya sangat dibutuhkan untuk menangkal berita bohong yang nantinya akan merugikan pihak tertentu, khususunya masyarakat.


Halaman Selanjutnya >>>

Ahmedabad